Berita

Gagal Kuliah di Pertambangan, Lulusan D3 IPB Kini Nikmati Usaha Ikan Hias

Kisah menarik tertoreh dari Lulusan Program Keahlian Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Sekolah Vokasi, Institut Pertanian Bogor (IPB), Ahmad Teduh.

“Setelah lulus SMA, saya bercita-cita mengikuti jejak kakak saya yang kuliah di pertambangan, saya mencoba berbagai macam tes namun tidak ada yang lolos. Saya pun mendaftar kuliah di Diploma  IPB jurusan perikanan. Awalnya saya tidak mengerti tentang ikan, setelah semester 2 saya mencoba mengikuti tes jurusan pertambangan namun gagal lagi,” ungkap Ahmad.

Melihat nasib tak berpihak, ia pun mulai menekuni jurusan perikanan yang sedang dijalaninya saat itu.

Pada saat memasuki semester 3 tahun 2012-2013 ia mulai memahami seluk beluk usaha budidaya ikan, dengan modal ilmu saat proses perkuliahan ditambah dengan jam terbang di lapangan untuk mencari informasi-informasi terkait budidaya, akhirnya ia memberanikan diri membuka sebuah farm yaitu sebuah unit usaha budidaya ikan. Ia mulai usahanya dengan budidaya pendederan ikan hias.

Pendederan yaitu usaha membesarkan ikan dari ukuran benih menjadi ukuran siap jual.

“Pada semester 3 saya mulai mencari tahu tentang ikan. Di sinilah saya memulai mencoba membuka farm ikan hias sendiri dengan jumlah akuarium sebanyak 20. Awalnya saya mendederkan ikan hias blackghost setelah itu, saya mencoba berbagai jenis ikan seperti ikan neon tetra, cardina tetra, sinodontis, agamisis, platydoras, baby dolpin dan pontius sampai lulus dari IPB,” tuturnya.

Setelah lulus dari Program Diploma IPB pria kelahiran 24 tahun ini terus mengembangkan minat dan usaha ikan hiasnya. Ia mencoba membesarkan ikan yang dipelihara menjadi ukuran induk dan akhirnya memijahkan induk yang dikoleksinya, sehingga dapat memproduksi benih ikan sendiri.

“Setelah lulus saya mulai pendederan ikan babydolphin dan pontius sambil menyimpan induk ikan red lizard (tahun 2014). Setelah satu tahun, pada tahun 2015 ikan red lizard saya  menjadi induk dan saya lepas dari pendederan. Saya mencoba jadi pembudidaya ikan red lizard dan saya menemukan cara untuk mengembangbiakkan red lizard dengan jumlah produksi telur 1.500-2.000 ekor per minggu,” ujarnya

Ia menjelaskan bahwa ikan red lizard dan panamense memiliki peluang pasar dan potensi yang cukup menggiurkan.

Red lizard misalnya permintaan pasarnya mencapai 450 ekor per minggu dengan harga Rp 8.000 per ekor.

Seiring dengan membudidayakan ikan red lizard, ia juga melalukan pembesaran ikan panamense untuk menjadi indukan.

Pada tahun 2016, ia berhasil membudidayakan ikan red lizard dan ikan panamense.

“Pada tahun 2017 saya mulai fokus pada ikan panamense dengan jumlah permintaan 500 ekor per minggu dengan harga Rp 9.000 per ekor,” tuturnya.

Tak disangka bak durian runtuh, jalan ini berbuah manis dan menghasilkan. Kini usahanya semakin berkembang.

Sekarang ia mampu memproduksi ribuan ekor benih ikan panamense per bulan.

“Jumlah produksi ikan panamense sekarang bisa mencapai 2.000-3.000 ekor per bulan dengan jumlah akuarium sebanyak 40 dengan jumlah induk 70 betina dan jantan 30. Saya bisa mendapatkan penghasilan Rp 8 juta per bulan dari ikan panamense. Masalah yang saya hadapi pada budidaya ikan panamense ini yaitu cuaca dingin. Untuk larva ikan panamense tidak tahan pada perubahan cuaca dari panas ke dingin,” tandasnya.

 

Tribunnews

Show More

Related Articles

Close