Profile

MENGENAL LEBIH DEKAT KH. SOLEH ISKANDAR

KH MAYOR TNI SHOLEH ISKANDAR (1922-1992)

Nama Sholeh Iskandar bagi masyarakat umum mungkin hanya dikenal sebagai nama jalan di Kota Bogor yang akrab dengan kemacetan, apalagi saat ini pada ruas jalan tersebut tengah dibangun jalan tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi II B ruas Kedung Badak – Simpang Yasmin. Namun jauh sebelum ditetapkan sebagai nama jalan, nama Sholeh Iskandar adalah sosok ulama dan pejuang asal Bogor yang semasa hidupnya telah memberikan sumbangsih yang cukup besar saat masa revolusi maupun pasca revolusi mulai dari tingkat lokal hingga internasional. Hal itu dipaparkan Edi Sudarjat dalam bukunya yang berjudul “Bogor Masa Revolusi 1945-1950, Sholeh Iskandar dan Batalyon 0 Siliwangi” terbitan Komunitas Bambu, Juni 2015.

Sebelum terjun di medan perjuangan, KH Sholeh Iskandar pernah mendirikan organisasi pemuda Muslim yang bernama Subbanul Muslimin pada tahun 1938 yang berpusat di Cibungbulang.

Sebagian waktu mudanya dihabiskan di medan perang terlebih lagi beliau saat itu tercatat sebagai Komandan Hizbullah di wilayah Bogor Barat. Bersama para pejuang lainnya, beliau bergerilya melawan penjajah.

Beberapa pertempuran yang melibatkan KH Sholeh Iskandar antara lain di daerah Ciseeng, Parung, Depok dan beberapa lokasi di Kota Bogor tahun 1945 – 1948.
Pada jaman Jepang, Batalyon perjuangan yang didirikannya yang bernama Baperdju di Cigudeg berhasil melucuti tentara Jepang di Desa Nanggung dan Desa Karacak Leuwiliang.

Jasa sang Mayor TNI KH Sholeh Iskandar lainnya adalah memimpin gerilya Batalyoon Tirtayasa Siliwangi. Berkat dia, alih-alih penjajah ingin menguasai Bogor, pasukan sekutu kalah telak dan meninggalkan Bogor.

Saat masa revolusi Sholeh Iskandar memimpin pasukan yang jumlahnya mencapai 1.000 personel, saat memimpin Batalyon VI salah satu bukti ketangguhannya mampu meledakan tank baja sekutu terbesar jenis Sherman di daerah Leuweung Kolot, Ciampea, Bogor. Lokasi peledakan itu kemudian dinamai Kampung Tank dan Batalyon VI direorganisasi menjadi Batalyon 0.

Kepiawaian dalam strategi perang mempertahankan Bogor itu membuat beliau mendapat pengakuan dari Belanda dan Sekutu. Mereka mengakui bahwa Sholeh Iskandar sebagai salah satu ahli strategi dalam perang gerilya yang dimiliki oleh Indonesia

Pasca revolusi, tidak sedikit capaian yang ditorehkan Sholeh Iskandar yang juga dikenal sebagai kyai, di tingkat Internasional, pada tahun 1950 Sholeh Iskandar membangun perumahan modern di Desa Pasarean, Pamijahan, Bogor, prestasinya diakui UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai perumahan modern pertama di dunia ketiga. Kemudian di tahun 1960, Sholeh Iskandar mendirikan lembaga pendidikan agama sekaligus keterampilan hidup yang pertama didunia islam internasional yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Pertanian Darul Fallah di Ciampea,

beliau aktif di Partai Masyumi yang kemudian karena memiliki garis politik berbeda dengan Nasakom-nya Soekarno, beliau dan beberapa tokoh lain seperti Natsir dan KH Noer Ali dari Bekasi dijebloskan ke Penjara.

Pada tahun 1959 bersama rekan-rekan seperjuangannya, Sholeh Iskandar mendirikan perusahaan Karoseri pertama di Indonesia dan pada tahun 1963 direorganisasi membentuk PT.Gunung Tirtayasa, mendirikan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) tahun 1957, mendirikan museum perjuangan Bogor (1958), mendirikan Badan Kerjasama Pondok Pesantren Jawa Barat (1972) yang berkembang menjadi Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKPPI). Sementara itu, di itingkat lokal, pejuang yang lahir pada 5 April 1922 itu mendirikan Universitas Ibnu Chaldun Bogor (1961) dan diubah menjadi Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) pada tahun 1974, mendirikan Yayasan Rumah Sakit Islam Bogor (YARSIB) yang kemudian berhasil membangun Rumah Sakit Islam Bogor, Dan tahun 1988 memprakarsai berdirinya Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika majelis Ualam Indonesai (LPPOM MUI) yang kemudian berkembang menjadi lembaga sertifikasi halal tingkat internasional, memprakarsai berdirinya Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Amanah Ummah (1992) dan banyak lagi sumbangsih lainnya yang diberikan semasa hidupnya.

yg tak kalah penting adalah keikhlasan beliau dalam mentransformasikan ilmu kepada murid-muridnya telah melahirkan ulama-ulama besar khususnya di wilayah Bogor diantaranya Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

Pembicara menyampaikan setidaknya ada 4 Karakter K.H Sholeh Iskandar yg patut kita teladani: 1) K.H Sholeh adalah sosok pemberani dan amanah, 2) K.H Sholeh tegas dalam menolak dan melawan kedzaliman, 3) Merakyat, dan 4) Keberpihakan kepada ummat di atas kepentingan pribadi dan golongan.

semoga apa yang K.H Sholeh Iskandar lakukan dalam perjuangannya, mampu diteruskan oleh kita generasi-generasi saat ini dan generasi masa yang akan datang sebagai bentuk kecintaan kita kepada Islam dan negeri Indonesia.

Saat kegiatan Diskusi Buku Bogor Zaman Jepang dan Bogor Masa Revolusi di Universitas Indonesia (UI) Rabu (08/03/17) kemarin, Wali Kota Bogor Bima Arya, mengatakan figur KH Sholeh Iskandar bersama KH Abdullah bin Nuh adalah figur yang lengkap, tidak hanya sebatas tokoh agama dan ilmuwan yang berdakwah membela agamanya tapi juga seorang  panglima yang mengangkat senjata membela bangsa dan negaranya.

Terakhir, KH Sholeh Iskandar saat meninggal dunia sebelum dikebumikan di Desa Barengkok, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, jenazah sampai disholatkan dua kali, yang pertama di Masjid Al Hijri Akmpus UIKA Bogor oleh keluarga dan kerabat, yang kedua sesaat sebelum masuk area pemakaman oleh para warga serta mantan anak buah semasa masa revolusi. “Pada zaman perjuangan istilahnya itu adalah Aksi Daulat,” ujar penulis buku Bogor Masa Revolusi 1945-1950, Edi Sudarjat

Semoga Allah selalu melimpahkan rohmah Nya kepada BELIAU, dan semoga kita dapat barokahnya Aamiin

sumber

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close